Ular Pohon Hijau atau Ular gadung

ular

User Rating: / 0
PoorBest 

Pastikan anda Like Hewan Kesayangan di Facebook untuk mendapat update cara merawat Hewan Kesayangan anda. Silahkan Login untuk merating artikel.

Ular Pohon Hijau atau Ular gadung

Ular Pohon Hijau atau Ular gadung


Ular gadung atau ular pohon hijau merupakan jenis ular dengan bisa yang lemah serta tidak berbahaya bagi manusia dari suku Colubridae. Secara umum, ular pohon hijau di wilayah Indonesia barat dikenal juga dengan sebutan ular pucuk. Nama-nama lain dari daerah seperti oray pucuk (Sunda.), ula gadung (Jawa.), dan lainnya. Dalam bahasa Inggris disebut Oriental whip-snake.

 

Anatomi Ular Pohon Hijau atau Ular gadung


Ular pohon hijau berwarna hijau, panjang serta sangat ramping. Namun terkadang ditemukan juga ular yang berwarna coklat kekuningan ataupun krem ataupun keputihan, terutama pada ular yang masih muda. Panjang tubuh keseluruhan dapat  mencapai 2 m, walau begitu kebanyakan yang ditemukan umumnya hanya sekitar 1,5 m atau lebih. Lebih dari sepertiganya memiliki ekor yang kurus menyerupai cambuk.

Pada bagian sisi atas tubuh atau dorsal berwarna hijau terang ataupun hijau agak muda, merata sampai dengan ekor yang umumnya sedikit lebih gelap. Adakalanya jika merasa terusik, ular pohon hijau akan melebarkan, atau memipihkan serta melipat lehernya serupa huruf S sampai muncul warna peringatan berupa belang-belang putih dan juga hitam pada kulit tepat di bawah sisiknya. Sisi bagian bawah tubuh (ventral) berwrna hijau pucat keputihan, dengan garis tipis kuning keputihan di sepanjang tepi bawah tubuh (ventrolateral).

Pada bagian kepala panjang dan meruncing pada bagian moncong, sangat terlihat jelas lebih besar dibandingkan leher yang kurus bulat bagaikan ranting hijau. Mata besar, kuning, dan dengan celah mata (pupil) mendatar. Panjang moncong sekurang-kurangnya dua kali dari panjang mata. Pipi memiliki lekukan serupa saluran horizontal yang mengarah kehidung, membuat mata dapat melihat dengan pandangan stereoskopik dan juga memperkirakan lokasi mangsa dengan lebih tepat.

Perisai (sisik-sisik besar) pada bibir atas (supralabial) 8-9 buah, yang nomor 4 hingga 6 menyentuh mata. Sisik-sisik dorsal terdapat 15 deret, 13 deret pada dekat ekor. Sisik-sisik ventral 189-241 buah; sisik anal berbelah, jarang tunggal; sisik-sisik subkaudal 169-183 buah (Tweedie 1983: 154-207 buah).

Kebiasaan

Ular pohon hijau sering terlihat atau ditemukan di pekarangan, kebun, semak belukar dan hutan. Ular ini senang berada di tajuk pepohonan ataupun semak belukar, ular pohon hijau sering juga terlihat menjalar di atas tanah, rerumputan, bahkan menyeberangi jalan. Sering juga ular ini terlihat menjulurkan kepalanya di antara dedaunan, dan juga sesekali bergoyang seolah sulur-suluran tertiup angin.

Ular pohon hijau aktif di siang hari (diurnal), memburu berbagai hewan yang menjadi mangsanya. Seperti cecak, kodok dan bunglon, dan berbagai jenis kadal. Bahkan adakalanya juga burung kecil dan juga mamalia kecil.

Seperti jenis ular pohon lainnya, ular pohon hijau bersifat ovovivipar. Telurnya menetas di dalam rahim ular dan keluar sebagai anak sepanjang sekitar 20 cm. Sekali bertelur jumlahnya bisa 9 ekor.

Subspesies dan Penyebaran ular Gadung

Terdapat empat subspesies dari Ahaetulla prasina, yaitu:

  1. A.p. prasina (Boie, 1827). Tersebar luas mulai dari India di barat, Bangladesh, ke timur sampai Tiongkok (Hong Kong), ke selatan hingga Burma, Indochina, Thailand, Semenanjung Malaya, dan Singapore. Di Indonesia tersebar di pulau-pulau Sumatra (termasuk Simeulue, Nias, Mentawai, Riau, Bangka dan Belitung), Borneo (termasuk Natuna dan Sebuku), Sulawesi (termasuk Buton, Kepulauan Sula dan Sangihe), Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, dan Ternate.
  2. A.p. preocularis (Taylor, 1922), tersebar di Filipina, termasuk di Luzon, Panay dan kepulauan Sulu.
  3. A.p. suluensis (Gaulke, 1994), tersebar di kepulauan Sulu, Filipina.
  4. A.p. medioxima Lazell, 2002.


Bisa Ular Pohon hijau

Ular pucuk termasuk mudah ditangkap serta mudah dijinakkan. Saat baru tertangkap, umumnya ular ini lebih agresif dan juga mudah terprovokasi. Memipihkan lehernya dan juga menampakkan warna-warna peringatannya, ular gadung ini akan mencoba menggigit penangkapnya. Tapi dengan penanganan yang lemah lembut dan juga hati-hati, biasanya ular gadung bisa segera ditenangkan.

Racun ular gadung termasuk kategori menengah, walaupun bisa membunuh seekor burung pipit dalam waktu beberapa menit saja. Namun sejauh ini diketahui tidak berbahaya manusia. Dampak gigitan ular gadung bervariasi mulai dari luka gigitan kecil dengan sedikit pedih, atau agak gatal, hingga ke pembengkakan ringan yang disertai sedikit rasa pegal. Biasanya penanganan secara tradisional, luka ini diolesi madu, atau dapat juga diberi antiseptik seperti larutan yodium guna mencegah infeksi. Ular ini banyak dijadikan sebagai ular peliharaan.


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel