Ayam hutan hijau

Ayam

User Rating: / 6
PoorBest 
Ayam hutan hijau - 4.2 out of 5 based on 6 votes

Pastikan anda Like Hewan Kesayangan di Facebook untuk mendapat update cara merawat Hewan Kesayangan anda. Silahkan Login untuk merating artikel.

Ayam hutan hijau


Ayam hutan hijau yang di beri nama Latin Gallus varius adalah sejenis ayam hutan yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yaitu keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian besar ayam hias peliharaan yang ada di Indonesia. Ayam hutan hijau sering pula disebut dengan berbagai nama daerah, seperti canghegar atau cangehgar, ayam alas, ajem allas atau tarattah .


Ayam hutan hijau di kenal dalam bahasa Inggris dengan nama Green Junglefowl, Java Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, hal ini merujuk pada warna dan asal tempat ayam hutan hijau tersebut.

 

Ciri Ciri Ayam hutan hijau

Termasuk unggas yang berukuran besar, panjang tubuh total jika diukur dari ujung paruh sampai ujung ekor sekitar  60 centi meter pada ayam hutan hijau jantan, dan 42 centi meter pada ayam hutan hijau betina. Jengger pada Ayam hutan hijau jantan tidak bergerigi, melainkan membulat pada tepinya. Berwarna merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk serta mantel hijau berkilau dengan tepian margin kehitaman dan nampak seperti sisik ikan.

Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang yang runcing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam dengan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam hutan hijau betina lebih kecil, kuning kecoklatan, dengan garis-garis dan bintik hitam. Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan.

Penyebaran serta Kebiasaan Ayam hutan hijau

Ayam hutan hijau menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam hutan hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup sampai ketinggian 1.500 mdpl, di Jawa Timur sampai ketinggian 3.000 mdpl dan di Lombok sampai ketinggian 2.400 mdpl.
Ayam betina

Pada pagi dan sore Ayam hutan hijau umumnya mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan rindangnya hutan. Ayam hutan Hijau memakan biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.

Ayam hutan hijau sering terlihat dalam kelompok, 2 ekor – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan hewan besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.

Ketika malam hari, kelompok Ayam hutan hijau tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 m – 4 m di atas tanah.

Ayam hutan hijau berbiak antara bulan Oktober hingga Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret hingga Juli di Jawa Timur. Sarang biasanya dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Ayam hutan hijau dapat bertelur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.

Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam hutan Hijau cukup pandai terbang. Anak Ayam hutan hijau sudah bisa terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam hutan hijau yang dewasa bisa terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam hutan Hijau bisa terbang lurus sampai beberapa ratus meter. Bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Pada pagi dan petang hari, Ayam hutan hijau jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkokok mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar tempat tidurnya.

Ayam hutan hijau merupakan kerabat dekat leluhur ayam peliharaan, ayam hutan merah (Gallus gallus). Ayam hutan merah yang menyebar luas mulai dari Himalaya, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, hingga ke Sumatra dan Jawa. Pada pihak lain, ayam hutan hijau tersebar di Jawa, Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya.

Ayam hutan dari Jawa Timur dikenal sebagai sumber tetua untuk menghasilkan ayam bekisar. Ayam Bekisar merupakan persilangan antara ayam hutan hijau dengan ayam kampung. Bekisar dikembangkan orang untuk menghasilkan ayam hias yang lebih indah bulunya, dan terutama untuk memperoleh ayam hias dengan kokok yang khas. Karena suaranya, ayam bekisar bisa mencapai harga yang sangat mahal. Ayam Bekisar juga menjadi lambang fauna daerah Jawa Timur.


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel